
Indonesia punya banyak bandara dengan karakter dan konsep yang berbeda-beda. Ada yang mengedepankan teknologi, ada yang mengusung konsep ramah lingkungan, dan ada pula yang memiliki desain infrastruktur yang cukup unik. Menariknya, keunikan tersebut tidak hanya terlihat dari bangunan terminalnya, tetapi juga dari bagaimana bandara mengelola air dan lingkungannya. Artikel ini membahas bandara di Indonesia dengan infrastruktur drainase yang menarik untuk dikulik lebih jauh.
Dua di antaranya yang menarik untuk dibahas adalah Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo dan Bandara Internasional Banyuwangi. Keduanya menarik untuk dibahas karena memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola infrastruktur dan lingkungan di area bandara. Hal tersebut dapat dilihat dari sistem pengelolaan air yang diterapkan, mulai dari integrasi drainase dengan underpass hingga konsep bandara hijau yang ramah lingkungan.
Mari kita bahas satu per satu:
Bandara Internasional Banyuwangi & Infrastruktur Drainasenya
Bandara Internasional Banyuwangi merupakan bandara pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat Net Zero Healthy Ready (NZH) dari Green Building Council Indonesia (GBCI) karena dinilai memiliki konsep bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Konsep ramah lingkungan ini juga diterapkan pada infrastruktur drainase bandara.
Sistem Drainase Siphonic Berkecepatan Tinggi (Fast Flow Siphonic System)
Struktur atap terminal hijau (green roof) di Bandara Internasional Banyuwangi menggunakan teknologi drainase siphonic khusus. Sistem ini memungkinkan air hujan di area atap dialirkan dan dikosongkan dengan sangat cepat melalui pipa berdiameter lebih kecil tanpa mengandalkan kemiringan pipa konvensional, sehingga mencegah genangan atau kelebihan beban muatan pada atap gedung terminal.
Pemanfaatan Lanskap dan Kolam Retensi sebagai Area Resapan
Alih-alih langsung membuang air hujan ke luar area bandara, rancangan lanskap terminal memanfaatkan vegetasi strategis dan kolam penampungan air alami (retention pond). Kolam dan area hijau ini berfungsi mengontrol debit air permukaan, menyaring air secara alami sebelum meresap ke dalam tanah, sekaligus memberikan efek pendinginan suhu mikro di sekitar bandara.
Daur Ulang Air
Air yang ditampung dari sistem drainase dan limpasan air sungai sekitar dikelola kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, seperti menyiram tanaman lanskap bandara dan keperluan toilet. Hal ini meminimalkan eksploitasi air tanah secara berlebihan.
Zona Perlindungan Sekitar Bandara
Pemerintah daerah menetapkan No Development Zone dalam radius 10 km di sekitar bandara untuk melindungi area persawahan dan jaringan irigasi maupun drainase alami pedesaan. Kebijakan ini menjaga agar sistem drainase makro di sekitar bandara tidak terganggu oleh alih fungsi lahan komersial secara masif.
Yogyakarta International Airport (YIA) & Infrastruktur Drainasenya
Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo merupakan salah satu contoh pentingnya sistem drainase dalam pembangunan infrastruktur bandara.
Kawasan bandara membutuhkan pengelolaan air yang terencana karena memiliki area luas dengan fungsi berbeda. Air hujan dari jalan akses, bangunan, dan kawasan operasional harus dialirkan melalui jaringan drainase yang sesuai dengan kondisi setempat.
Infrastruktur Pengendalian Banjir
Tantangan pengendalian air di YIA juga berkaitan dengan potensi banjir dari aliran Sungai Bogowonto dan Sungai Serang. Pada Mei 2025, Kementerian Pekerjaan Umum meninjau infrastruktur pengendalian banjir di kawasan ini, yang meliputi kolam retensi, sistem drainase, stasiun pompa, dan jetty. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya mengendalikan debit air dan mengurangi risiko banjir di sekitar bandara.
Sistem Pompa pada Underpass
Sebelumnya, pembangunan underpass YIA juga dilengkapi sistem pompa untuk mengalirkan air ketika terjadi genangan. Menurut Direktorat Jenderal Bina Marga, underpass tersebut memiliki empat pompa dengan kapasitas masing-masing lima meter kubik per menit. Air yang dipompa kemudian dialirkan ke sistem drainase yang terhubung dengan kawasan bandara dan diteruskan ke arah laut.
Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan air di kawasan bandara memerlukan koordinasi antara saluran drainase, pompa, dan infrastruktur pengendalian banjir lainnya. Perencanaan dan pemeliharaan yang baik sama-sama diperlukan agar sistem dapat berfungsi sesuai kebutuhan.
Mengapa Sistem Drainase Penting di Area Bandara?
Drainase mungkin bukan bagian yang paling terlihat ketika kita berada di bandara, tetapi sistem drainase bandara memiliki fungsi yang sangat penting. Area bandara memiliki lahan yang luas, mulai dari terminal, apron, taxiway, hingga runway (landasan pacu). Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air perlu dialirkan dengan baik agar tidak menimbulkan genangan yang dapat mengganggu aktivitas dan operasional bandara.
Selain kapasitas saluran, komponen penutup drainase seperti manhole cover bandara dan grill bandara juga perlu diperhatikan. Beberapa area memiliki kebutuhan yang berbeda, terutama pada bagian yang menerima beban kendaraan, peralatan operasional, maupun aktivitas dengan intensitas tinggi. Karena itu, pemilihan material dan spesifikasi penutup saluran perlu disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing area.
Di sinilah sistem drainase tidak hanya berbicara mengenai bagaimana air dibuang, tetapi juga bagaimana seluruh komponennya dapat bekerja dengan baik dalam jangka panjang. Perencanaan yang tepat dan penggunaan material yang sesuai menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi infrastruktur bandara.
Penulis: Ayu | Editor: Hayyu

Leave a Reply